Pemecatan Kepala dan Sekertaris DPMTSP di Muka Umum, Sibualamo Halsel : Sebut Bupati Tidak Beretika

Sefnat Tagaku, Sekertaris Sibualamo Halsel

Pemerintah Daerah Kabupaten Halmahera Selatan (Pemda Halsel) gelar apel perdana di awal kepemimpinan, pada; 31 Mei 2021 pagi tadi. Pada apel perdana ini, ada hal yang di kejutkan oleh bupati Halsel, bapak Usman Sidik.

Pasalnya, Bupati Halsel Usman Sidik yang di dampingi wakil bupati, Hasan Ali Bassam Kasuba, mengumumkan secara umum pencopotan Kepala Dinas, Nasyir Koda dan Sekertaris, Ishar Hasan, Penanaman Modal Terpadu Satu Atap (DPMTSP) pada saat pelaksanaan apel perdana tersebut.

Hal tersebut, mendapat respon dari Badan Pengurus Sibualamo Halmahera Selatan, Sefnat Tagaku (Sekertaris Sibualamo Halsel) menyebut bupati Usman Sidik tidak memiliki etika birokrasi. Soal pergantian jabatan di dinas tertentu adalah soal wajar dan biasa terjadi, tapi harus juga beretika, ucap Sefnat.

Bagi saya, mengumumkan di muka umum untuk mencopot jabatan seseorang, adalah sesuatu yang tidak beretika. Karna itu, atas nama Badan Pengurus Sibualamo Halsel, kesal dan kecewa sikap bupati Halsel. Tutup Sefnat.

Pencopotan Jabatan Kadis PMTSP, KAMI Sebut Bupati Tak Punya Etika Birokrasi

Pemerintah Daerah Kabupaten Halmahera Selatan (Pemda Halsel) gelar apel perdana di awal kepemimpinan, pada; 31 Mei 2021 pagi tadi. Pada apel perdana ini, ada hal yang di kejutkan oleh bupati Halsel, bapak Usman Sidik.

Apel Perdana Pemda Halsel

Pasalnya, Bupati Halsel yang di dampingi wakil bupati, Hasan Ali Bassam Kasuba, mengumumkan secara umum pencopotan Kepala Dinas dan Sekertaris Penanaman Modal Terpadu Satu Atap (DPMTSP) pada saat pelaksanaan apel perdana tersebut.

Bupati dan Wakil Bupati Halsel

Hal tersebut, mendapat respon dari Kaum Milenial Indonesia (KAMI) wilayah Halsel. Direktur KAMI Halsel, Sefnat Tagaku menyebut bupati Usman Sidik tidak memiliki etika birokrasi. Soal pergantian jabatan di dinas tertentu adalah soal wajar dan biasa terjadi, tapi harus juga beretika, ucap Sefnat.

Bagi saya, mengumumkan di muka umum untuk mencopot jabatan seseorang, adalah sesuatu yang tidak beretika. Karna itu, saya kesal dan kecewa sikap bupati Halsel. Tutup Sefnat.

Sefnat Tagaku (Direktur KAMI Wilayah Halsel)

Soal Kisruh Jalan di Obi : KAMI Halsel Sebut DPRD Bicara Hoax

Sefnat Tagaku (Direktur KAMI Halsel)

Berapa hari ini, Halmahera Selatan di kejutkan dengan berita dari DPRD Halsel tentang; PT. Harita tolak pembangunan jalan di Obi. Berita ini di respon oleh berbagai lapisan masyarakat, baik LSM, Organisasi Kemahasiswaan, Praktisi Hukum, maupun akademisi.

Menanggapi hal tersebut, Kaum Milenial Indonesia (KAMI) Wilayah Halsel, sebut DPRD Halsel telah sebar berita hoax.

Pasalnya, setelah kami mempelajari kronologis yang sebenarnya, ternyata PT. Harita bukan menolak pembuatan jalan, melainkan mengusulkan agar jalan tidak di buat di bibir pantai Obi melainkan menggeserkan sedikit di tengah. Hal ini di karnakan jalan yang ingin di buat kena IUP Harita, kata Sefnat (Direktur KAMI Halsel).

Karna itu, dengan adanya berita tentang penolakan pembuatan jalan oleh Harita, Saya sebut ini adalah berita hoax yang di sebarkan oleh DPRD, Tegas Sefnat.

Kami berharap, DPRD jangan sibuk bagikan berita hoax, sebab masih banyak masalah fakta lain, yang harus di selesaikan oleh DPRD, bukan sebar berita hoax. Akhir Sefnat.

Bahrain Kasuba Niatkan Diri Maju di Pilgub. KAMI Halsel : Bahrain Adalah Pemimpin Sukses Bangun Daerah

Jelang pemilihan gubernur (pilgub) provinsi Maluku Utara, nama-nama politisi pun ikut bermunculan untuk ikut bertarung, sebagai calon gubernur (cagub) dan calon wakil gubernur (cawagub). Diantara nama-nama yang bermunculan, salah satunya adalah Bahrain Kasuba (Bupati Halsel), yang akan mengakhiri masa baktinya di bulan Mei mendatang.

Hal itu di sampaikan lansung oleh Bahrain saat di wawancarai oleh sejumlah wartawan, pasca pembukaan kegiatan STQ kemarin. Niat Bahrain untuk maju sebagai Cagub Malut pun di respon baik oleh kalangan masyarakat, karna di nilai Bahrain adalah sosok pemimpin yang peduli dengan pembangunan dan itu sangat di dambakan oleh masyarakat Maluku Utara.

Respon baik juga pun di sampaikan oleh direktur Kaum Milenial Indonesia, Wilayah Halsel (Direktur KAMI Wil. Halsel), bung Sefnat Tagaku, menurutnya; bapak Bahrain adalah sosok pemimpin yang memiliki kepedulian terhadap pembangunan di berbagai segi. Hal tersebut dapat dilihat dari perubahan wajah Halsel saat di pimpin oleh Bahrain.

Karna itu, bapak Bahrain layak mengikuti kontestasi pilgub di 2024 mendatang. Tutup Sefnat.

Jelang Pilgub di Malut, Nama Bahrain Menguat di Kalangan Masyarakat

Belum berakhirnya masa periode Gubernur dan wakil gubernur provinsi Maluku Utara, periode 2019-2024, kini sejumlah nama telah di isukan akan siap bertarung pada pilgub mendatang. Diantara nama-nama yang keluar, Bahrain Kasuba salah satu nama yang terkuat di kalangan masyarakat Maluku Utara.

Pasalnya, Bahrain Kasuba di nilai oleh publik adalah merupakan politisi sejati. Serta memiliki komitmen dan konsistensi yang tinggi untuk masyarakat. Hal tersebut, terbukti saat Bahrain memimpin Halmahera Selatan. Meski pernah gagal dalam upayah melanjutkan kepemimpinan di Halsel, akibat sistem politik tentang pemenuhan partai, namun semangat dan kecintaannya kepada masyarakat tidak berhenti bahkan berbagai pembangunan mampu di buktikan oleh Bahrain Kasuba.

Menanggapi hal tersebut, menurut Sefnat Tagaku (Direktur KAMI Halsel), Bapak Bahrain Kasuba, adalah sosok politisi sejati. Sefnat mengaku, bahwa sosok bapak Bahrain Kasuba, sangat di butuhkan oleh masyarakat di Maluku Utara.

Pasalnya, Bapak Bahrain memiliki jiwa pembangunan, baik Ekonomi, politik, pendidikan, kesehatan, bahkan infrastruktur. Sehingga bapak Bahrain layak memimpin Malut kedepan. Tutup Sefnat.

Usia 71 Tahun, GMKI Mau Kemana?

Oleh : Sefnat Tagaku (Demisioner BPC GMKI Tobelo)

Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), adalah merupakan organisasi pengerak, yang bergerak pada medan panggilan pelayanannya, yakni; gereja, perguruan tinggi dan masyarakat. Sebelum jauh GMKI di lahirkan di bumi pertiwi ini, ada salah satu wadah telah di bentuk dan menjadi cikal bakal dari GMKI, yakni; Christelijke Studenten Vereeniging op Java (CSV) yang di dirikan pada 28 Desember 1932 di Kaliurang, Yogyakarta, Indonesia.

Wadah ini kemudian berubah menjadi Perhimpunan Mahasiswa Kristen Indonesia (PMKI) setelah di bubarkan atas kekuasaan pemerintah Jepang dan kemudian melebur diri menjadi GMKI, tepat pada tanggal 9 Februari 1953.

Tentunya, kehadiran CSV, PMKI hingga GMKI memiliki alasan yang sangat mendasar, yakni; untuk menjawab setiap problem (penindasan, diskriminasi, marjinalisasi, pembodohan dan eksploitasi) yang di hadapi oleh bangsa dan negara ini.

Atas realitas hidup yang semacam itu, semangat pergerakan untuk melakukan perubahan-perubahan dari setiap problem yang di alami pun di lakukan. Termaksud, kehadiran CSV yang adalah cikal bakal GMKI pun turut menggumulinya.

Kehadiran GMKI pula sangat sadar akan ada berbagai keberagaman di negara Indonesia, baik dalam bergereja (denominasi), maupun berbangsa (agama, suku, budaya, etnis, ras, dll). Sehingga suara yang selalu di kumandangkan adalah, ‘Ut Omnes Unum Sint’.

Kalimat tersebut di ambil dari bahasa Latin, yang berarti; ‘Agar Semua Menjadi Satu’ (bdk. Yoh. 7:21). Kalimat tersebut pula, adalah merupakan Doa Yesus kepada Murid-murid-Nya. Satu yang di maksudkan, bukan memaksakan perbedaan itu di satukan tanpa ada yang berbeda. Tetapi, justru menjunjung perbedaan itu sebagai kekuatan bangsa dan gereja yang majemuk.

Jika sejarah GMKI seperti demikian, maka apa yang dilakukan GMKI di era ini, dengan usia ke 71 tahun?

Usia 71 tahun, jika di hitung pada usia manusia, tentu manusia tersebut sudah berada pada lanjut usia. Itu berarti, GMKI hari ini sudah sangat dewasa. Kedewasaan GMKI, pun menjadi tantangan besar untuk turut menjawab misi nya di tengah kehidupan Gereja, perguruan tinggi dan masyarakat, yang adalah medan panggilan pelayanannya.

Apalagi, di era ini berbagai peristiwa tragis (Kelompok pemecah persatuan bangsa, pembunuhan, rasisme, pemerkosaan, serta korupsi) yang masih belum pudar dari wajah kehidupan bangsa kita hari ini. Peristiwa-peristiwa tersebut adalah merupakan tantangan bagi GMKI di tengah kehidupan negara ini.

Meski tantangan yang di hadapi begitu berat, tetapi sebagai organisasi gerakan yang menginginkan akan adanya perubahan (kemerdekaan sesungguhnya), harus mampu membangun pola pergerakan yang mampu merubah realitas hidup di hari ini, yang di dasari pada Kasih Kristus sebagai kepala penggerak.

GMKI harus menfokuskan diri untuk membangun kaders, yang sesuai pada tri panji nya. Yakni; menjadi kader yang tinggi iman, tinggi ilmu serta tinggi pengabdian. Sehingga gerakan ini tidak pasif akan kondisi kita hari ini, melainkan selalu aktif dalam mendorong kebijakan-kebijakan yang berpihak pada masyarakat seutuhnya. Karna jika tidak, maka setiap kader yang di lahirkan di wadah ini, adalah kader yang berorientasi pada kepentingan pribadi, ketimbangan kepentingan kemaslahatan umat.

Akhirnya, melalui catatan ini, saya mengucapkan selamat panjang umur wadah yang telah melahir banyak orang hebat, semoga semangat oikumenis dan nasionalis selalu menjadi pribadi setiap kader’s nya, demi menuju negara dan gereja yang kuat dari tantangan. Tetaplah menjadi perahu yang tetap utuh, dalam menyebrangi lautan bergelombang, untuk lahirnya nakhoda yang hebat.

Ut Omnes Unum Sint!!!

Sefnat Tagaku (BPC Demisioner GMKI Tobelo)

53 Tahun Fakultas Teologi : Akankah GMIH Ke Jalan Rekonsiliasi Menuju Penyatuan?

Oleh : Sefnat Tagaku (Mahasiswa Fakultas Teologi, Uniera)

Catatan ini menjadi suatu bahan refleksi bagi semua kader’s, yang lahir dan besar di rumah ‘UNGU’, yakni; Sekolah Tinggi Teologi, yang kini telah melebur diri menjadi salah satu Fakultas di Universitas Halmahera, atas upayah warga Gereja Masehi Injili di Halmahera (GMIH). Rumah yang jika di pandang dari usianya, sudah sangat cukup ketuaan, karna telah berusia ke 53 tahun.

Dengan usia yang sudah tua itu, tentunya sudah banyak kisah yang di alami oleh mereka yang pernah dan sementara menimbah segudang pengetahuan di rumah ini, sudah merasakan lika-liku perjalanan dengan penuh kenangan, yang mungkin berunjung pada sebuah kebahagiaan. Rumah ini pula sudah banyak melahirkan orang-orang hebat, yang telah tersebar di propinsi Maluku Utara. Mereka yang tersebar itu ada di berbagai bidang lapangan pekerjaan, baik itu sebagai pendeta, guru, akademisi, politisi bahkan hingga ke birokrasi dan semuanya tampil dengan hebat.

Sesungguhnya, kita perlu mengimani bahwa itu anugrah dan kuasa Tuhan, melalui kehadiran rumah tua (STT yang sekarang F. Teol) atas upayah warga GMIH. Jika demikian, semua yang pernah bernaung di rumah ini, harus memiliki kecintaan terhadap GMIH, dengan tidak memecahkan persatuan dalam kehidupan berjemaat, sebagai wujud ucapan terima kasih karna telah melahirkan rumah tua tersebut.

Cerita dan angan itu, ternyata berbalik arah pada tahun 2013 silam. GMIH mengalami gejolak yang besar, hingga terjadinya perpecahan pada tubuhnya (dualisme kepemimpinan). Siapa yang di salahkan? Apakah ‘Rumah Tua’ yang melahirkan orang-orang hebat itu?

Berbagai prespektif di gunakan dalam melihat sumber perpecahan tersebut, sehingga melahirkan emosional kemasing-masingan orang bahkan kelompok, yang membuat semua orang bertahan tanpa membayangkan rasa, tentang ‘Rumah Tua’. Berbagai jalan rekonsiliasi dilakukan, akan tetapi sifat egois telah menutupi mata hati orang-orang hebat itu. Bahkan, ada kalimat yang di keluarkan, “Biarkanlah kita dengan kemasing-masingan kelompok”.

Jika demikian, siapa lagi yang di harapkan untuk kembali memulai rekonsiliasi, yang pernah mengalami jalan buntuh?

Kemarin tepat pada tanggal 28 Januari 2021, semua yang pernah berada di rumah ini turut merayakan hari berdirinya rumah ini. Baik yang hadir di tempat perayaan yang di sediakan oleh panitia, maupun yang melayangkan rasa cinta mereka terhadap rumah ini di media sosial (medsos). Perayaan kali ini ada hal yang sangat menarik, yakni; tema dari acara perayaan tersebut, yaitu : MESRA (Memeluk Semua Dalam Ragam Asa).

Tema ini, mungkin di gagas dengan perspektif yang berbeda. Tetapi, bagi saya tema ini pula sangatlah relevan dengan kehidupan bergeraja kita (GMIH) hari ini. GMIH yang telah melahirkan si ‘Rumah Tua’, untuk sebagai tempat melatih warganya agar menjadi orang hebat dan bukan sebagai tempat perteduhan dari hujan dan panas.

Karna itu, tema tersebut mestinya menjadi sebuah refleksi kita bersama (Warga GMIH), untuk kembali menggantungkan asa atas perpecahan kita, seperti doa Yesus untuk murid-murid-Nya, “Supaya Semua Mereka Menjadi Satu” (bdk. Yohanes 17:21 a). Kiranya, melalui momentum perayaan dies natalis Fakultas Teologi yang 53 tahun ini, menjadi jalan pikiran yang terbuka untuk kembali merekonsiliasi konflik 2013, demi terwujudnya gereja yang mandiri, utuh dan misioner.

“Mari bermesra, dari jalan pikiran yang berbeda

PT. Harita Banyak di Soroti, Direktur KAMI Halsel : Mainan Ada Udang di Balik Batu

Beberapa hari ini, banyak yang menyoroti pihak PT. Harita Grub dengan muatan kritikan keras. Baik dari pihak pemerintah desa wilayah Obi, aktifis, bahkan dari pihak akademisi. Sorotan-sorotan yang di layangkan kepada pihak PT. Harita adalah, perpindahan rumah warga dan tuduhan pihak Harita telah melalukan pembuangan tailing di laut.

Menanggapi hal tersebut, direktur Kaum Milenial Indonesia (KAMI) wilayah Halmahera Selatan, bung Sefnat Tagaku mengatakan bahwa, PT. Harita adalah perusahan besar, yang setiap kebijakannya sudah melalui banyak pertimbangan, termaksud pertimbangan kepada keberadaan masyarakat. Karna itu jika mau mengkritik, ada baiknya di konfirmasi sumber masalahnya yang jelas, kepada pihak PT. Harita Grub.

Untuk soal pembuangan tailing, saya sudah berkonfirmasi dengan pihak Harita, tapi sejauh ini, mereka belum melakukannya. Lalu kenapa isu di mainkan, seolah pihak Harita sudah melakukannya? Ujar Sefnat dengan nada curiga.

Selain itu, Sefnat juga mengaku sudah berkonsultasi dengan pihak Harita soal perpindahan rumah, dan rumah yang di gantikan oleh pihak Harita di jamin aman dan nyaman.

Karna itu, saya curiga dengan mereka yang memainkan isu ini, sedang membawah kepentingan pribadi atau kelompok. Tutup Sefnat.

Sefnat Tagaku (Direktur Kaum Milenial Indonesia) Wilayah Halsel

“Wacana Ijazah Palsu di Pilkada Halsel, Direktur KAMI Halsel : Minta KPU Perjelas Dalam Verifikasi”

Sefnat Tagaku, Direktu KAMI Wil. Halsel

Jelang pemilihan kepala daerah (pilkada) di kabupaten Halmahera Selatan, selalu saja menghadirkan wacana publik yang menarik. Baik itu wacana yang bersifat positif maupun yang bersifat negatif. Salah satunya adalah, dugaan penggunaan ijazah palsu oleh salah satu pasangan calon


Meski demikian, sampai hari ini dugaan ijazah palsu yang telah menjadi wacana di media sosial belum mendapat perhatian khusus oleh pihak-pihak yang berwenang. Mungkin karna belum ada laporan resmi dari pihak yang membenarkan atau memainkan wacana tersebut.


Menanggapi hal itu, Sefnat Tagaku yang sebagai Direktur Kaum Milenial Indonesia Halmahera Selatan (KAMI Halsel) menyampaikan bahwa, meski belum ada kejelasan apakah wacana tersebut adalah palsu atau benar sampai hari ini, tetapi kehadiran wacana ini sungguh telah mencederai wajah demokrasi di daerah kita hari ini.


Berdasarkan itu, saya meminta pihak KPU Halsel perjelas setelah tahapan verifikasi, untuk membuktikan bahwa apakah ijazah tersebut adalah benar atau palsu, dengan meminta penjelasan pihak-pihak terkait yang dapat membuktikan soal ini. Sehingga, hal demikian di jadikan sebagai klarifikasi jika ijazah tersebut adalah benar, dan di proses sesuai amanat konstitusi, jika ijazah tersebut adalah palsu. Agar supaya, tidak ada pikiran negatif yang muncul terhadap KPU Halsel, akibat wacana ijazah palsu yang sudah menjadi konsumsi publik hari ini.


Selain itu, melalui media ini saya meminta kepada pihak kepolisian untuk mengusut tuntas orang-orang yang sengaja memainkan isu ini, jika benar-benar ijazah tersebut adalah benar.

“Bahrain Sang Petarung Sejati” (Oleh : Sefnat Tagaku, Direktur Kaum Milenial Indonesia (KAMI Halsel)

Memulai karir sebagai sang guru yang mencerdaskan anak bangsa sesuai amanat undang-undang, sesungguhnya salah satu pribadi yang memiliki jasa besar bagi negri ini. Dengan komitmen membangun kehidupan sosial masyarakat, Bahrain akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang politisi. Karna berdasarkan niat yang tulus membangun negri ini, Bahrain di percayakan sebagai perwakilan masyarakat di DPRD Kab. Halmahera Selatan selama dua periode dan pernah menjabat sebagai ketua DPRD Halsel. Tak berhenti di situ, Bahrain kembali melanjutkan karir politiknya melalui dirinya ikut mencalonkan diri sebagai DPRD Propinsi Maluku Utara dan berhasil menduduki posisi strategis sebagai wakil ketua DPRD Malut. Hal ini tentunya menjadi sesuatu yang membanggakan. Meski pun demikian, Bahrain sungguh menyadari bahwa wewenangnya sangat terbatas dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat Halmahera Selatan. Akhirnya dia melanjutkan karir politiknya melalui pencalonan Bupati Halmahera Selatan. Kepercayaan kembali di berikan kepadanya sebagai bupati Halsel periode 2015-2020.

Menjalankan karir politik yang begitu panjang, sudah tentu Bahrain punya kontribusi besar bagi kehidupan masyarakat Maluku Utara, khususnya Halmahera Selatan. Jika kita mengamati jejak perjalanan Bahrain dibalik proses panjangnya, ada hal menarik di dalam diri seorang Bahrain. Yakni; memiliki jiwa nasionalis, rendah hati, jujur dan tulus membangun daerah. Hal itu bisa dilihat, selama kepemimpinannya sebagai bupati, Bahrain tidak pernah menyampingkan suatu golongan dan selalu tenang meski banyak yang menfitnah dan menjatuhkannya. Terlebih khusus keberhasilannya dalam membawah Halsel dengan luas wilayah yang besar serta masyarakat yang majemuk (baca : Penghargaan yang di sabet Bahrain).

Kini Bahrain kembali melaju memberikan diri sebagai calon bupati Halmahera Selatan. Karna itu, mari semua kita menggunakan hak politik kita pada siapa yang telah berkarya di daerah ini.

#BK_LM_Lanjutkan