53 Tahun Fakultas Teologi : Akankah GMIH Ke Jalan Rekonsiliasi Menuju Penyatuan?

Oleh : Sefnat Tagaku (Mahasiswa Fakultas Teologi, Uniera)

Catatan ini menjadi suatu bahan refleksi bagi semua kader’s, yang lahir dan besar di rumah ‘UNGU’, yakni; Sekolah Tinggi Teologi, yang kini telah melebur diri menjadi salah satu Fakultas di Universitas Halmahera, atas upayah warga Gereja Masehi Injili di Halmahera (GMIH). Rumah yang jika di pandang dari usianya, sudah sangat cukup ketuaan, karna telah berusia ke 53 tahun.

Dengan usia yang sudah tua itu, tentunya sudah banyak kisah yang di alami oleh mereka yang pernah dan sementara menimbah segudang pengetahuan di rumah ini, sudah merasakan lika-liku perjalanan dengan penuh kenangan, yang mungkin berunjung pada sebuah kebahagiaan. Rumah ini pula sudah banyak melahirkan orang-orang hebat, yang telah tersebar di propinsi Maluku Utara. Mereka yang tersebar itu ada di berbagai bidang lapangan pekerjaan, baik itu sebagai pendeta, guru, akademisi, politisi bahkan hingga ke birokrasi dan semuanya tampil dengan hebat.

Sesungguhnya, kita perlu mengimani bahwa itu anugrah dan kuasa Tuhan, melalui kehadiran rumah tua (STT yang sekarang F. Teol) atas upayah warga GMIH. Jika demikian, semua yang pernah bernaung di rumah ini, harus memiliki kecintaan terhadap GMIH, dengan tidak memecahkan persatuan dalam kehidupan berjemaat, sebagai wujud ucapan terima kasih karna telah melahirkan rumah tua tersebut.

Cerita dan angan itu, ternyata berbalik arah pada tahun 2013 silam. GMIH mengalami gejolak yang besar, hingga terjadinya perpecahan pada tubuhnya (dualisme kepemimpinan). Siapa yang di salahkan? Apakah ‘Rumah Tua’ yang melahirkan orang-orang hebat itu?

Berbagai prespektif di gunakan dalam melihat sumber perpecahan tersebut, sehingga melahirkan emosional kemasing-masingan orang bahkan kelompok, yang membuat semua orang bertahan tanpa membayangkan rasa, tentang ‘Rumah Tua’. Berbagai jalan rekonsiliasi dilakukan, akan tetapi sifat egois telah menutupi mata hati orang-orang hebat itu. Bahkan, ada kalimat yang di keluarkan, “Biarkanlah kita dengan kemasing-masingan kelompok”.

Jika demikian, siapa lagi yang di harapkan untuk kembali memulai rekonsiliasi, yang pernah mengalami jalan buntuh?

Kemarin tepat pada tanggal 28 Januari 2021, semua yang pernah berada di rumah ini turut merayakan hari berdirinya rumah ini. Baik yang hadir di tempat perayaan yang di sediakan oleh panitia, maupun yang melayangkan rasa cinta mereka terhadap rumah ini di media sosial (medsos). Perayaan kali ini ada hal yang sangat menarik, yakni; tema dari acara perayaan tersebut, yaitu : MESRA (Memeluk Semua Dalam Ragam Asa).

Tema ini, mungkin di gagas dengan perspektif yang berbeda. Tetapi, bagi saya tema ini pula sangatlah relevan dengan kehidupan bergeraja kita (GMIH) hari ini. GMIH yang telah melahirkan si ‘Rumah Tua’, untuk sebagai tempat melatih warganya agar menjadi orang hebat dan bukan sebagai tempat perteduhan dari hujan dan panas.

Karna itu, tema tersebut mestinya menjadi sebuah refleksi kita bersama (Warga GMIH), untuk kembali menggantungkan asa atas perpecahan kita, seperti doa Yesus untuk murid-murid-Nya, “Supaya Semua Mereka Menjadi Satu” (bdk. Yohanes 17:21 a). Kiranya, melalui momentum perayaan dies natalis Fakultas Teologi yang 53 tahun ini, menjadi jalan pikiran yang terbuka untuk kembali merekonsiliasi konflik 2013, demi terwujudnya gereja yang mandiri, utuh dan misioner.

“Mari bermesra, dari jalan pikiran yang berbeda

Tinggalkan komentar